Tuesday, 26 February 2013

FAMILY TREE PLANTING 2013



Bangun Indonesiaku – Kemarin (24/2/2013) Tunas Hijau dan Pemkot Surabaya berkolaborasi untuk membuat Hutan Kota di wilayah Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Pukul 7 pagi peserta pun mulai berdatangan di acara yang diselenggarakan di Eks. TPA Keputih yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Terminal Keputih. Tak ketinggalan Ibu Walikota Surabaya Bu Tri Rismahariani juga ikut berpartisipasi demi mendukung acara untuk Bumi ini. Dan datang juga tamu dari Perwakilan Konjen Amerika Serikat di Surabaya Andrew Veveiros dan Bapak Dandim Surabaya.
Peserta begitu antusias untuk berpartisipasi dalam acara untuk Bumi ini. Mereka tak hanya datang dari Surabaya saja ada juga yang dari luar kota seperti dari Gresik. Tak hanya acara penanaman pohon saja yang dilakukan dalam acara tersebut setelah sambutan Puta Putri Lingkungan Hidup dan sambutan Ibu Walikota ada juga pemberian Penghargaan untuk para peserta dalam kategori-kategori seperti : Penyumbang Pohon Terbanyak, Kostum Terunik, Pohon Terlangka dan masih banyak lainnya.

Dan disediakan pula tempat bermain yang minimalis tapi mengasyikkan untuk anak-anak bermain sambil menunggu acara dimulai yaitu “ULAR TANGGA” datar dengan 2 buah dadu. Setelah sambutan dan pemberian penghargaan untuk peserta kemudian peserta diajak ke belakang Terminal yang telah disediakan tempat untuk menanam pohon. Dimulai dari penanaman pohon Ibu Walikota ( Bu Risma ) dengan dibantu bapak Dandim, Bapak Andrew dari perwakilan konsulat Amerika dan Putra Putri Lingkungan Hidup. Kemudian serentak diikuti oleh peserta lainnya.

Dan ada juga pohon terlangka yang ditanam di acara ini yaitu, Pohon Jasmine.

“Ini kegiatan yang sangat bermanfaat untuk anak cucu kita nanti di Surabaya dan untuk remaja sangat bermanfaat menghindari pergaulan yang sekarang sangat memprihatinkan” ujar Bu Risma. (24/2/2013)

(mrpp)
Reade more >>

Monday, 11 February 2013

Taman Bacaan Anak Lebah (Bangun Indonesiaku)

Hari ini saya coba mengulas tentang salah satu organisasi yang bertujuan untuk membangun Indonesia lebih baik yaitu http://tamanbacaananaklebah.com/ yang didirikan oleh BuVera Makki.



Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) merupakan inisiatif non-politis, non-profit yang memiliki visi untuk menjadi mitra utama dalam mengembangkan taman bacaan di pelosok Indonesia bagian Timur. Misi TBAL adalah membangun kebiasan membaca buku anak-anak sejak usia dini.

Tak dapat dipungkiri bahwa buku merupakan jendela dunia yang dapat membuka wawasan dan mengembangkan daya imajinasi serta kreativitas anak-anak. Buku bacaan yang sesuai dengan usia anak, jika diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan sejak kecil, dapat menumbuhkan minat baca dan kebiasaan membaca buku yang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak saat ini maupun di saat dewasa.
Sayangnya, minat baca anak-anak Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lain di Asia, salah satu sebabnya adalah minimnya akses buku ke anak-anak, disamping cukup mahalnya harga buku anak-anak tersebut. Faktor lain adalah kurang besarnya hasrat guru, tutor, maupun orang tua dalam mengajak anak-anak untuk mulai gemar membaca buku.
Anak-anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik dari mereka yang kurang suka membaca. Anak yang gemar membaca terbiasa memiliki pola pikir yang sistematis karena buku terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. Anak yang gemar membaca akan terbantukan dalam melontarkan ide dan pikiran secara runut. Satu keahlian yang dibutuhkan anak-anak di masa depan, utamanya dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat di industri mana pun mereka akan terjun nantinya.
Sebelum pengiriman, semua buku donasi disortir, untuk memastikan tidak ada kata-kata atau ilustrasi yang kurang baik untuk anak-anak. TBAL tidak semata-mata mengejar kuantitas, namun yang terpenting kualitas dalam berbagi.
TBAL difokuskan kepada anak-anak usia dini (1-8 tahun) di wilayah Timur Indonesia, mengingat perputaran ekonomi, bisnis, termasuk pendistribusian buku selama ini selalu berfokus di pulau Jawa dan sekitarnya, dimana wilayah Indonesia Timur seringkali menjadi prioritas kesekian. Mahalnya transportasi dan logistik ke wilayah ini jua lah yang menyebabkan keengganan berbagai pihak untuk melaksanakan community development yang berkesinambungan di wilayah ini.
TBAL justru memiliki misi sebaliknya. Dengan secara rutin mengirim donasi buku dan majalah yang sesuai dengan usia anak ke wilayah Indonesia Timur yang kurang mampu, diharapkan dapat membantu terwujudnya PERUBAHAN ke arah perbaikan. Let’s start small …
Sumber : http://tamanbacaananaklebah.com/
Reade more >>

Indonesia Mengajar (Bangun Indonesiaku)

Kali ini saya ingin membahas salah satu organisasi yang bertekad untuk membangun Indonesia lebih baik yaitu https://indonesiamengajar.org yang dipelopori oleh Bapak Anies Baswedan.


Sejarah Indonesia Mengajar

Gerakan Indonesia Mengajar diinspirasi proses panjang yang dibangun selama bertahun-tahun. Proses ini adalah gabungan dari: 1) Pelajaran dari berbagai generasi, 2) Perjalanan aktivitas pengabdian maupun interaksi dengan berbagai masyarakat, 3) Pengetahuan modern yang dipetik dari dunia akademik global.

Ide awal Indonesia Mengajar berasal dari Anies Baswedan. Pada dekade 1990-an, Anies adalah mahasiswa dan aktivis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia adalah Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM dan terlibat di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Pada masa itu, ia bergaul dan belajar banyak dari seorang mantan rektor UGM periode 1986-1990: Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri (Pak Koes). Pak Koes, seorang keturunan ningrat dari Tasikmalaya, adalah eks Tentara Pelajar yang pasca-revolusi kemerdekaan menjadi mahasiswa di UGM yang baru berdiri di Jogja.
Pada tahun 1950an, Pak Koes menginisiasi sebuah program bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yakni sebuah program untuk mengisi kekurangan guru SMA di daerah, khususnya di luar Jawa. Dalam beberapa kasus, PTM ini justru mendirikan SMA baru dan pertama di sebuah kota kabupaten. Pak Koes adalah inisiator sekaligus salah satu dari 8 orang yang menjadi angkatan pertama PTM ini. Beliau berangkat ke Kupang dan bekerja di sana selama beberapa tahun. Sepulangnya dari Kupang, ia mengajak serta 3 siswa paling cerdas untuk kuliah di UGM. Salah satunya adalah Adrianus Mooy yang di kemudian hari menjadi Gubernur Bank Indonesia. Cerita penuh nilai dari PTM inilah salah satu sumber inspirasi bagi Indonesia Mengajar.
Semasa mahasiswa sampai pasca kepulangan dari kuliah di Amerika Serikat, Anies sering melakukan perjalanan, berinteraksi dan tinggal di daerah atau lingkup budaya berbeda.
Waktu kuliah, ia tinggal di daerah lain--walau hanya beberapa bulan--semasa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia juga sering  melakukan perjalanan riset terkait pekerjaannya sebagai peneliti dan penasehat di sebuah lembaga di Jakarta, dan terkadang tinggal dan berinteraksi dengan berbagai unit budaya di Indonesia maupun di luar negeri.




Pengalaman tersebut membawa Anies pada beberapa hasil perenungan:
  1. Janji Kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak diterima merata di penjuru Tanah Air. Sebagian sudah lunas terpenuhi janjinya dan sebagian lainnya belum.
  2. Tinggal dan berinteraksi akan memberikan pengalaman kepemimpinan nyata dan pemahaman empatik yang tinggi bagi yang melaluinya. Inilah salah satu rujukan tumbuhnya ide Indonesia Mengajar.
"Dengan kompetensi global beserta pemahaman akar rumput, Indonesia akan sanggup berpijak dan mengabdi bagi kepentingan nasionalnya di tingkat dunia, demi memenuhi semua janji kemerdekaan bagi rakyatnya"
Selepas dari UGM, Anies Baswedan mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Tinggal, belajar dan bekerja di sana membuatnya memahami bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan kompetensi kelas dunia untuk bersaing di lingkungan global.
Tetapi, kompetensi kelas dunia saja tak cukup. Anak-anak muda Indonesia harus punya pemahaman empatik yang mendalam seperti akar rumput meresapi tanah tempatnya hidup.
Semua proses di atas, secara perlahan membentuk ide besar Gerakan Indonesia Mengajar. Konstruksi dasarnya mulai terumuskan pada pertengahan 2009. Ketika itu, Anies mendiskusikan dan menguji idenya pada berbagai pihak. Gagasan ini kemudian siap mewujud ketika beberapa pihak berkenan menjadi sponsor.

"Indika Energy Group dengan serta merta menyatakan dukungan penuhnya"
Proses untuk mendesain dan mengembangkan konsep Indonesia Mengajar dimulai pada akhir 2009, dengan membentuk tim kecil yang kemudian berkembang hingga menjadi organisasi seperti sekarang ini.
Visi dan Misi Indonesia Mengajar
Indonesia Mengajar merupakan sebuah ikhtiar untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.


Visi Gerakan Indonesia Mengajar
Diinspirasi oleh janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Indonesia dipenuhi oleh anak muda yang tulus mengabdi menjadi guru selama waktu tertentu di daerah, menularkan optimisme, menebar inspirasi dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput. Pada saat bersamaan, anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan bangsanya.
Kehadiran dan kehidupan anak-anak muda itu di sekolah, desa dan keluarga baru mereka di pelosok Nusantara akan merajut tenun kebangsaan yang lebih kokoh.
Kelak, Indonesia akan dipenuhi pemimpin baru yang memiliki kompetensi kelas dunia dengan pemahaman akar rumput. Para pemimpin itu lahir dari anak-anak muda terbaik pada generasinya yang diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, bekerja, dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di segala penjuru, termasuk di daerah terpencil.

Misi kami di Indonesia Mengajar
                                                                             
Indonesia Mengajar memiliki misi ganda:
  1. Mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan.
  2. Menjadi wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indonesia agar tak semata memiliki kompetensi kelas dunia, tetapi juga pemahanan akar rumput.
Indonesia Mengajar membantu mengisi kekurangan guru sekolah dasar, khususnya di daerah terpencil dengan mengirimkan lulusan terbaik Perguruan Tinggi di Indonesia yang telah dididik intensif untuk menguasai kapasitas kepengajaran dan kepemimpinan untuk bekerja sebagai guru selama satu tahun.

Sumber : https://indonesiamengajar.org/
Reade more >>

Sunday, 10 February 2013

Taman Bacaan Anak Lebah Hadir di Wakatobi



150 anak-anak suku Bajo berkumpul dan membaca buku bersama

Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 15 Juni 2012 – Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) hari ini berkumpul bersama 150 anak-anak suku Bajo di desa Mola Selatan untuk meresmikan kehadiran TBAL di komunitas tersebut. Mengikuti bentuk rumah panggung a la suku Bajo, TBAL berdiri di atas panggung terbuka berukuran 3,5m x 4m dan dilengkapi dengan rak buku – keduanya terbuat dari kombinasi kayu dan bambu.
Donasi buku cerita anak-anak ke desa ini telah berlangsung sejak tahun 2011. Jenis buku yang diberikan berfokus pada cerita bergambar dan berwarna untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Komposisi buku yang diberikan adalah 80% buku baru dan 20% buku lama dengan kualitas yang masih baik.  Pemberian buku ini merupakan inti dari misi TBAL, yaitu membangun minat baca anak-anak sejak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan di lingkungan  yang kondusif bagi anak-anak untuk membaca sambil belajar dan bermain.
Seperti mekanisme di seluruh wilayah TBAL (Lombok Timur, Lombok Tengah, Pulau Seram, dan Ambon), TBAL Wakatobi terbuka bagi anak-anak yang ingin membaca buku sepuasnya, tanpa dipungut biaya. Buku dapat dibaca di lokasi namun tidak dapat dipinjam atau dibawa pulang, untuk memastikan setiap buku dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh siapa pun.
Pada acara peresmian, hadir juga para orang tua murid, utamanya para ibu, dan diresmikan oleh Vera Makki dan Vandy Makki (Pendiri TBAL), Bapak Tonang Pammajere (Pembina dan Pengelola TBAL), Rismadhani (Pejuang Lebah), Bapak Abdul Gafur (Ketua Kekar – organisasi masyarakat suku Bajo di desa Mola Selatan) dan para tutor.
Pembagian buku cerita anak-anak kali ini merupakan hasil dari program “Satu Buku Satu Saudara” yang digalang selama 3 bulan sejak Februari 2012 hingga April 2012 melalui media sosial Twitter dan Facebook.
“Satu Buku Satu Saudara” mengajak setiap insan untuk menyumbangkan buku cerita anak-anak untuk diberikan kepada anak-anak kurang beruntung yang tersebar di 9 titik TBAL di pelosok Indonesia bagian Timur.  Mengambil konsep sahabat pena, setiap penyumbang diajak untuk menyelipkan pesan positif dan penuh semangat untuk penerima buku. Saat buku diterima dan dibaca, maka telah terjalin persaudaraan antara si pemberi dan si penerima. Dengan satu buku, terjalin satu persaudaraan. Semangat kebersamaan inilah yang diusung oleh TBAL dengan hashtag #SatuBukuSatuSaudara di Twitter.
Lebih dari 1000 orang berpartisipasi dalam misi sosial ini. Sekolah Binus International School Serpong, Tangerang, berhasil mengajak seluruh anak murid TK dan SD untuk menyumbangkan buku sehingga terkumpul 1200 buku, dimana sebanyak 320 buku dialokasikan ke Wakatobi. Di tingkat individu, sumbangan buku datang dari berbagai kota antara lain Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Surabaya. Adapun total buku yang selama ini diberikan ke TBAL Wakatobi mencapai sekitar 300 judul buku, total 400 buku. Sebagian didonasikan ke setiap anak, sebagian untuk koleksi TBAL Wakatobi.
Dengan adanya TBAL Wakatobi, diharapkan anak-anak suku Bajo yang sebagian besar merupakan anak nelayan, dapat memiliki minat baca yang besar dan menjadikan membaca buku sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan.
Buku merupakan jendela dunia dan merupakan sarana untuk memperluas wawasan, mengembangkan ide dan kreatifitas, membantu anak berpikir secara sistematis, mendorong mereka untuk gemar bereksplorasi, dan memperkuat karakter anak agar tumbuh cerdas, penuh semangat dan percaya diri.
Sumber
Reade more >>