Bangun
Indonesiaku – Kemarin (24/2/2013) Tunas Hijau dan
Pemkot Surabaya berkolaborasi untuk membuat Hutan Kota di wilayah KecamatanSukolilo, Surabaya. Pukul 7
pagi peserta pun mulai berdatangan di acara yang diselenggarakan di Eks. TPA
Keputih yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Terminal Keputih. Tak
ketinggalan Ibu Walikota Surabaya Bu Tri Rismahariani juga ikut berpartisipasi
demi mendukung acara untuk Bumi ini. Dan datang juga tamu dari Perwakilan
Konjen Amerika Serikat di Surabaya Andrew Veveiros dan Bapak Dandim Surabaya.
Peserta begitu antusias untuk berpartisipasi dalam
acara untuk Bumi ini. Mereka tak hanya datang dari Surabaya saja ada juga yang
dari luar kota seperti dari Gresik. Tak hanya acara penanaman pohon saja yang
dilakukan dalam acara tersebut setelah sambutan Puta Putri Lingkungan Hidup dan
sambutan Ibu Walikota ada juga pemberian Penghargaan untuk para peserta dalam
kategori-kategori seperti : Penyumbang Pohon Terbanyak, Kostum Terunik, Pohon
Terlangka dan masih banyak lainnya.
Dan disediakan pula tempat bermain yang minimalis
tapi mengasyikkan untuk anak-anak bermain sambil menunggu acara dimulai yaitu
“ULAR TANGGA” datar dengan 2 buah dadu. Setelah sambutan dan pemberian
penghargaan untuk peserta kemudian peserta diajak ke belakang Terminal yang
telah disediakan tempat untuk menanam pohon. Dimulai dari penanaman pohon Ibu
Walikota ( Bu Risma ) dengan dibantu bapak Dandim, Bapak Andrew dari perwakilan
konsulat Amerika dan Putra Putri Lingkungan Hidup. Kemudian serentak diikuti
oleh peserta lainnya.
Dan ada juga pohon terlangka yang ditanam di acara
ini yaitu, Pohon Jasmine.
“Ini kegiatan yang sangat bermanfaat untuk anak cucu
kita nanti di Surabaya dan untuk remaja sangat bermanfaat menghindari
pergaulan yang sekarang sangat memprihatinkan” ujar Bu Risma. (24/2/2013)
Hari ini saya coba mengulas tentang salah satu organisasi yang bertujuan untuk membangun Indonesia lebih baik yaitu http://tamanbacaananaklebah.com/ yang didirikan oleh BuVera Makki.
Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) merupakan inisiatif non-politis, non-profit yang memiliki visi untuk menjadi mitra utama dalam mengembangkan taman bacaan di pelosok Indonesia bagian Timur. Misi TBAL adalah membangun kebiasan membaca buku anak-anak sejak usia dini.
Tak dapat dipungkiri bahwa buku merupakan jendela dunia yang dapat membuka wawasan dan mengembangkan daya imajinasi serta kreativitas anak-anak. Buku bacaan yang sesuai dengan usia anak, jika diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan sejak kecil, dapat menumbuhkan minat baca dan kebiasaan membaca buku yang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak saat ini maupun di saat dewasa.
Sayangnya, minat baca anak-anak Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lain di Asia, salah satu sebabnya adalah minimnya akses buku ke anak-anak, disamping cukup mahalnya harga buku anak-anak tersebut. Faktor lain adalah kurang besarnya hasrat guru, tutor, maupun orang tua dalam mengajak anak-anak untuk mulai gemar membaca buku.
Anak-anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik dari mereka yang kurang suka membaca. Anak yang gemar membaca terbiasa memiliki pola pikir yang sistematis karena buku terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. Anak yang gemar membaca akan terbantukan dalam melontarkan ide dan pikiran secara runut. Satu keahlian yang dibutuhkan anak-anak di masa depan, utamanya dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat di industri mana pun mereka akan terjun nantinya.
Sebelum pengiriman, semua buku donasi disortir, untuk memastikan tidak ada kata-kata atau ilustrasi yang kurang baik untuk anak-anak. TBAL tidak semata-mata mengejar kuantitas, namun yang terpenting kualitas dalam berbagi.
TBAL difokuskan kepada anak-anak usia dini (1-8 tahun) di wilayah Timur Indonesia, mengingat perputaran ekonomi, bisnis, termasuk pendistribusian buku selama ini selalu berfokus di pulau Jawa dan sekitarnya, dimana wilayah Indonesia Timur seringkali menjadi prioritas kesekian. Mahalnya transportasi dan logistik ke wilayah ini jua lah yang menyebabkan keengganan berbagai pihak untuk melaksanakan community development yang berkesinambungan di wilayah ini.
TBAL justru memiliki misi sebaliknya. Dengan secara rutin mengirim donasi buku dan majalah yang sesuai dengan usia anak ke wilayah Indonesia Timur yang kurang mampu, diharapkan dapat membantu terwujudnya PERUBAHAN ke arah perbaikan. Let’s start small …
Kali ini saya ingin membahas salah satu organisasi yang bertekad untuk membangun Indonesia lebih baik yaitu https://indonesiamengajar.org yang dipelopori oleh Bapak Anies Baswedan.
Sejarah Indonesia Mengajar
Gerakan Indonesia Mengajar diinspirasi proses panjang
yang dibangun selama bertahun-tahun. Proses ini adalah gabungan dari: 1)
Pelajaran dari berbagai generasi, 2) Perjalanan aktivitas pengabdian maupun
interaksi dengan berbagai masyarakat, 3) Pengetahuan modern yang dipetik dari
dunia akademik global.
Ide awal Indonesia Mengajar berasal dari Anies Baswedan.
Pada dekade 1990-an, Anies adalah mahasiswa dan aktivis di Universitas Gadjah
Mada (UGM). Ia adalah Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM dan terlibat di berbagai
aktivitas kemahasiswaan. Pada masa itu, ia bergaul dan belajar banyak dari
seorang mantan rektor UGM periode 1986-1990: Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri
(Pak Koes). Pak Koes, seorang keturunan ningrat dari Tasikmalaya, adalah eks
Tentara Pelajar yang pasca-revolusi kemerdekaan menjadi mahasiswa di UGM yang
baru berdiri di Jogja.
Pada tahun 1950an, Pak Koes menginisiasi sebuah program
bernama Pengerahan
Tenaga Mahasiswa (PTM), yakni sebuah program untuk mengisi kekurangan guru
SMA di daerah, khususnya di luar Jawa. Dalam beberapa kasus, PTM ini justru
mendirikan SMA baru dan pertama di sebuah kota kabupaten. Pak Koes adalah
inisiator sekaligus salah satu dari 8 orang yang menjadi angkatan pertama PTM
ini. Beliau berangkat ke Kupang dan bekerja di sana selama beberapa tahun.
Sepulangnya dari Kupang, ia mengajak serta 3 siswa paling cerdas untuk kuliah
di UGM. Salah satunya adalah Adrianus Mooy yang di kemudian hari menjadi
Gubernur Bank Indonesia. Cerita penuh nilai dari PTM inilah salah satu sumber
inspirasi bagi Indonesia Mengajar.
Semasa mahasiswa sampai pasca kepulangan
dari kuliah di Amerika Serikat, Anies sering melakukan perjalanan, berinteraksi
dan tinggal di daerah atau lingkup budaya berbeda.
Waktu kuliah, ia tinggal di daerah lain--walau hanya
beberapa bulan--semasa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia juga sering melakukan
perjalanan riset terkait pekerjaannya sebagai peneliti dan penasehat di sebuah
lembaga di Jakarta, dan terkadang tinggal dan berinteraksi dengan berbagai unit
budaya di Indonesia maupun di luar negeri.
Pengalaman tersebut membawa Anies pada beberapa hasil
perenungan:
Janji
Kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak diterima merata di
penjuru Tanah Air. Sebagian sudah lunas terpenuhi janjinya dan sebagian
lainnya belum.
Tinggal
dan berinteraksi akan memberikan pengalaman kepemimpinan nyata dan
pemahaman empatik yang tinggi bagi yang melaluinya. Inilah salah satu
rujukan tumbuhnya ide Indonesia Mengajar.
"Dengan kompetensi global beserta pemahaman akar
rumput, Indonesia akan sanggup berpijak dan mengabdi bagi kepentingan
nasionalnya di tingkat dunia, demi memenuhi semua janji kemerdekaan bagi
rakyatnya"
Selepas dari UGM, Anies Baswedan mendapat beasiswa untuk
melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Tinggal, belajar dan bekerja di sana
membuatnya memahami bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan kompetensi kelas dunia
untuk bersaing di lingkungan global.
Tetapi, kompetensi kelas dunia saja tak cukup. Anak-anak
muda Indonesia harus punya pemahaman empatik yang mendalam seperti akar rumput
meresapi tanah tempatnya hidup.
Semua proses di atas, secara perlahan membentuk ide besar
Gerakan Indonesia Mengajar. Konstruksi dasarnya mulai terumuskan pada
pertengahan 2009. Ketika itu, Anies mendiskusikan dan menguji idenya pada
berbagai pihak. Gagasan ini kemudian siap mewujud ketika beberapa pihak
berkenan menjadi sponsor.
"Indika Energy Group dengan serta merta menyatakan
dukungan penuhnya"
Proses untuk mendesain dan mengembangkan konsep Indonesia
Mengajar dimulai pada akhir 2009, dengan membentuk tim kecil yang kemudian
berkembang hingga menjadi organisasi seperti sekarang ini.
Visi dan Misi Indonesia Mengajar
Indonesia Mengajar merupakan sebuah ikhtiar untuk ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Visi Gerakan Indonesia Mengajar
Diinspirasi oleh janji kemerdekaan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, Indonesia dipenuhi oleh anak muda yang tulus mengabdi menjadi
guru selama waktu tertentu di daerah, menularkan optimisme, menebar inspirasi
dan menjadi jendela kemajuan di tingkat akar rumput. Pada saat bersamaan,
anak-anak muda itu belajar untuk peka dan peduli pada realitas kehidupan
bangsanya.
Kehadiran dan kehidupan anak-anak muda itu di sekolah, desa
dan keluarga baru mereka di pelosok Nusantara akan merajut tenun kebangsaan
yang lebih kokoh.
Kelak, Indonesia akan dipenuhi pemimpin baru yang memiliki
kompetensi kelas dunia dengan pemahaman akar rumput. Para pemimpin itu lahir
dari anak-anak muda terbaik pada generasinya yang diberi kesempatan untuk
hidup, tinggal, bekerja, dan berinteraksi di dunia pendidikan bersama rakyat di
segala penjuru, termasuk di daerah terpencil.
Misi kami di Indonesia Mengajar
Indonesia Mengajar memiliki misi ganda:
Mengisi
kekurangan guru berkualitas di daerah yang membutuhkan.
Menjadi
wahana belajar kepemimpinan bagi anak-anak muda terbaik Indonesia agar tak
semata memiliki kompetensi kelas dunia, tetapi juga pemahanan akar rumput.
Indonesia Mengajar membantu mengisi kekurangan guru sekolah
dasar, khususnya di daerah terpencil dengan mengirimkan lulusan terbaik
Perguruan Tinggi di Indonesia yang telah dididik intensif untuk menguasai
kapasitas kepengajaran dan kepemimpinan untuk bekerja sebagai guru selama satu
tahun.
150 anak-anak suku Bajo berkumpul dan membaca buku bersama
Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 15 Juni 2012 – Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) hari ini berkumpul bersama 150 anak-anak suku Bajo di desa Mola Selatan untuk meresmikan kehadiran TBAL di komunitas tersebut. Mengikuti bentuk rumah panggung a la suku Bajo, TBAL berdiri di atas panggung terbuka berukuran 3,5m x 4m dan dilengkapi dengan rak buku – keduanya terbuat dari kombinasi kayu dan bambu.
Donasi buku cerita anak-anak ke desa ini telah berlangsung sejak tahun 2011. Jenis buku yang diberikan berfokus pada cerita bergambar dan berwarna untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Komposisi buku yang diberikan adalah 80% buku baru dan 20% buku lama dengan kualitas yang masih baik. Pemberian buku ini merupakan inti dari misi TBAL, yaitu membangun minat baca anak-anak sejak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan di lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk membaca sambil belajar dan bermain.
Seperti mekanisme di seluruh wilayah TBAL (Lombok Timur, Lombok Tengah, Pulau Seram, dan Ambon), TBAL Wakatobi terbuka bagi anak-anak yang ingin membaca buku sepuasnya, tanpa dipungut biaya. Buku dapat dibaca di lokasi namun tidak dapat dipinjam atau dibawa pulang, untuk memastikan setiap buku dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh siapa pun.
Pada acara peresmian, hadir juga para orang tua murid, utamanya para ibu, dan diresmikan oleh Vera Makki dan Vandy Makki (Pendiri TBAL), Bapak Tonang Pammajere (Pembina dan Pengelola TBAL), Rismadhani (Pejuang Lebah), Bapak Abdul Gafur (Ketua Kekar – organisasi masyarakat suku Bajo di desa Mola Selatan) dan para tutor.
Pembagian buku cerita anak-anak kali ini merupakan hasil dari program “Satu Buku Satu Saudara” yang digalang selama 3 bulan sejak Februari 2012 hingga April 2012 melalui media sosial Twitter dan Facebook.
“Satu Buku Satu Saudara” mengajak setiap insan untuk menyumbangkan buku cerita anak-anak untuk diberikan kepada anak-anak kurang beruntung yang tersebar di 9 titik TBAL di pelosok Indonesia bagian Timur. Mengambil konsep sahabat pena, setiap penyumbang diajak untuk menyelipkan pesan positif dan penuh semangat untuk penerima buku. Saat buku diterima dan dibaca, maka telah terjalin persaudaraan antara si pemberi dan si penerima. Dengan satu buku, terjalin satu persaudaraan. Semangat kebersamaan inilah yang diusung oleh TBAL dengan hashtag #SatuBukuSatuSaudara di Twitter.
Lebih dari 1000 orang berpartisipasi dalam misi sosial ini. Sekolah Binus International School Serpong, Tangerang, berhasil mengajak seluruh anak murid TK dan SD untuk menyumbangkan buku sehingga terkumpul 1200 buku, dimana sebanyak 320 buku dialokasikan ke Wakatobi. Di tingkat individu, sumbangan buku datang dari berbagai kota antara lain Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Surabaya. Adapun total buku yang selama ini diberikan ke TBAL Wakatobi mencapai sekitar 300 judul buku, total 400 buku. Sebagian didonasikan ke setiap anak, sebagian untuk koleksi TBAL Wakatobi.
Dengan adanya TBAL Wakatobi, diharapkan anak-anak suku Bajo yang sebagian besar merupakan anak nelayan, dapat memiliki minat baca yang besar dan menjadikan membaca buku sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan.
Buku merupakan jendela dunia dan merupakan sarana untuk memperluas wawasan, mengembangkan ide dan kreatifitas, membantu anak berpikir secara sistematis, mendorong mereka untuk gemar bereksplorasi, dan memperkuat karakter anak agar tumbuh cerdas, penuh semangat dan percaya diri.